Selasa, 06 Februari 2018

Meski 24 Kali Operasi, "Manusia Pohon" Ini Tak Bisa Kembali Normal



Bruniq.com - Abul Bajandar, pria asal Bangladesh yang lebih dikenal sebagai "manusia pohon" karena kulit tubuhnya dipenuhi kutil seperti kayu dari tangan dan kakinya, telah menjalani 24 kali operasi selama setahun terakhir, namun kondisinya tidak bisa kembali normal seperti sedia kala.

Bajandar mengatakan, pertumbuhan kutil yang mulai kembali lagi. Padahal, sepanjang operasinya selama setahun terakhir, telah dikeluarkan lebih dari 5 kilogram (11 pon) kutil dari tubuhnya.

Pada Januari tahun lalu, dokter optimistis bahwa Bajandar bisa segera meninggalkan rumah sakit dan kembali ke kehidupan normalnya. Tapi saat ini, dokter mengatakan kasusnya tampak lebih rumit daripada yang mereka duga sebelumnya.

"Saya takut melakukan operasi lagi. Saya tidak berpikir tangan dan kaki saya akan baik-baik saja," ujar Bajandar, dilansir dari laman Live Science, Senin (5/2/2018).

Bajandar menghabiskan 12 bulan terakhir di rumah sakit. Keluarganya pun ikut tinggal bersamanya di rumah sakit.

Bajandar memiliki kondisi genetik langka yang disebut epidermodysplasia verruciformis, menurut laporan berita. Orang dengan kondisi ini lebih rentan terhadap infeksi human papillomavirus (HPV) pada kulit mereka, menurut laporan kondisi tahun 2010.

Pada orang dengan kondisi tersebut, infeksi HPV menyebabkan pembentukan lesi kulit seperti kutil, yang dapat berkembang menjadi tumor ganas pada sekitar 50 persen pasien, kata laporan tersebut.

Saat ini, tidak ada obat definitif untuk epidermodysplasia verruciformis, menurut makalah 2010.

"Menemukan cara untuk mengatasi lesi kulit pada pasien epidermodisplasia verruciformis adalah perjuangan terus-menerus," papar makalah tersebut.

Selain operasi, pengobatan dapat mencakup obat yang disebut retinoid, yang dapat menghambat pertumbuhan sel dan kadang-kadang digunakan untuk mengobati kondisi kulit; dan interferon, protein yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus.

Beberapa perawatan ini mungkin membantu, namun ada variasi yang luas dalam bagaimana pasien meresponsnya, sambung laporan tersebut. Memang, walaupun ada beberapa pilihan pengobatan, "tidak ada yang tampak kuratif, dan lesi biasanya kambuh setelah penghentian pengobatan," laporan tersebut menyimpulkan.
Next article Next Post
Previous article Previous Post